ILMU
SOSIAL DAN PERILAKU
Oleh :
KHALIMATUS SA’ADAH
18.13101.10.21
Dosen
: Prof. Dr. Suli Efendi Rahim,M.Sc
PROGRAM PASCA
SARSAJANA KESEHATAN MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANBINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN
AJARAN
2019
Soal
:
1.
Jelaskan aspek-aspek sosial dan perilaku
dalam kesehatan masyarakat yang sering anda alami dan saksikan
2.
Jelaskan seperti apa upaya peningkatan kesehatan
masyarakat melalui inovasi sosial, perilaku, teknologi dan pendekatan budaya
3.
Jelaskan langkah-langkah perencanaan
program untuk perubahan perilaku kesehatan dimasyarakat
4.
Jelaskan apa itu literasi kesehatan dan manfaatnya bagi
peningkatan kesehatan masyarakat
JAWAB
:
1. Secara
umum aspek fisik meliputi topografi (bentuk muka bumi), biotik (makhluk
hidup), dan non-biotik (benda tak hidup). Sementara aspek sosial
meliputi sosiologi, antropologi, psikologi dan ilmu sosial lain (ekonomi, komunikasi
massa, hukum dll). Aspek sosial, sangat luas cakupannya meliputi segala
hal yang melekat pada kehidupan manusia seperti tradisi, adat, kelompok dan
masyarakat . Ilmu sosial dan
kesehatan masyarakat memiliki kaitan yang sangat erat. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki prinsip dasar yang sama,
yaitu sama-sama memperjuangkan keadilan
sosial. Keadilan sosial berarti sebuah masyarakat dapat memberikan perlakuan
adil serta pembagian yang adil sebagai
imbalan dari individu kepada masyarakat dan masyarakat terhadap individu. Agen kesehatan masyarakat
memperjuangkan keadilan sosial dan melihat kesehatan masyarakat sebagai bagian penting dari keadilan sosial. Beberapa
aspek yang sata alami dan saksikan :
a. Nilai
Kepercayaan atau Agama Terhadap Perilaku Kesehatan
mempunyai dampak
utama dalam kesehatan, khususnya untuk praktik tertentu yang
didukung atau dikutuk oleh suatu kelompok agama tertentu. Berikut merupakan cara agama memengaruhi kesehatan
Agama mempengaruhi praktik sosial yang menempatkan individu dalam peningkatan
atau penurunan risiko. Contoh: sunat (seksual),
penghindaran makanan laut, daging babi, serta daging sapi (makanan)
b. Persepsi
masyarakat Terhadap Sehat dan Sakit
Masyarakat mempunyai
batasan sehat atau sakit yang berbeda dengan konsep sehat dan sakit versi
sistem medis modern penyakit disebabkan oleh makhluk halus, guna-guna dan dosa
c. Nilai
Kebudayaan Terhadap Perilaku Kesehatan
yang berlaku dalam
masyarakat akan berpengaruh terhadap perilaku individu masyarakat, kerena apa tidak
melakukan nilai maka diangga tidak berperilaku “ pamali” atau “ Saru “. Nilai
yang ada dimasyarakat tidak semua mendukung perilaku sehat. Nilai-nilai tersebut ada yang menunjang dan
ada yang merugikan kesehata
d. Pengaruh
Norma terhadap perilaku kesehatan
Norma dalam masyarakat
sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dibidang kesehatan, karena norma yang
mereka miliki diyakininya sebagai bentuk perilaku yang baik. Misal ; adanya
norma bahwa laki2 tidak boleh bersalaman dengan Perempuan yang bukan mukrimnya,
sehingga seorang wanita apabila periksa bagian tubuhnya
2. Kesehatan
merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran nting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus
dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah
salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang
Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomi dilakukan oleh dokter wanita, sampai pada
pemberian alat KB IUD, suntik harus dilakukan oleh dokter wanita, bahkan
untuk periksa wanita hamil harus oleh
dokter wanita. Norma dimasyarakat sangat
mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota masyarakatnya yang mendukung norma
tersebut
Paradigma
sehat mempunyai orientasi dimana upaya peningkatan kesehatan masyarakat dititik
beratkan pada :
a. Promosi
kesehatan, peningkatan vitalitas penduduk yang tidak sakit (85%) agar lebih
tahan terhadap penyakit melalui olah raga, fitness dan vitamin.
b. Pencegahan
penyakit melalui imunisasi pada ibu hamil, bayi dan anak.
c. Pencegahan
pengendalian penanggulangan, pencemaran lingkungan serta perlindungan
masyarakat terhadap pengaruh buruk (melalui perubahan perilaku).
d. Memberi
pengobatan bagi penduduk yang sakit, (15%) melalui pelayanan medis.
Dalam upaya kesehatan
program yang diperlukan adalah program
kesehatan yang lebih “efektif” yaitu program kesehatan yang mempunyai
model-model pembinaan kesehatan (Health Development Model) sebagai paradigma
pembangunan kesehatan yang diharapkan mampu menjawab tantangan sekaligus
memenuhi program upaya kesehatan. Model ini menekankan pada upaya kesehatan dan
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mempersiapkan
bahan baku sumber daya manusia yang berkualitas untuk 20-25 tahun mendatang.
b. Meningkatkan
produktivitas sumber daya manusia yang ada.
c. Melindungi
masyarakat luas dari pencemaran melalui upaya promotif-preventif-protektif
dengan pendekatan pro-aktif.
d. Memberi
pelayanan kesehatan dasar bagi yang sakit.
e. Promosi
kesehatan yang memungkinkan penduduk mencapai potensi kesehatannya secara penuh
(peningkatan vitalitas) penduduk yang tidak sakit (85%) agar lebih tahan
terhadap penyakit.
f. Pencegahan
penyakit melalui imunisasi : bumil (ibu hamil), bayi, anak, dan juga melindungi
masyarakat dari pencemaran.
g. Pencegahan,
pengendalian, penanggulangan pencemaran lingkungan serta perlindungan
masyarakat terhadap pengaruh lingkungan buruk (melalui perubahan perilaku)
h. Penggerakan
peran serta masyarakat.
i.
Penciptaan lingkungan yang memungkinkan
masyarakat dapat hidup dan bekerja secara sehat.
j.
Pendekatan multi sektor dan inter
disipliner.
k. Pengembangan
kebijakan yang dapat memberi perlindungan pada kepentingan kesehatan masyarakat
luas (tidak merokok di tempat umum).
l.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan
dasar bagi masyarakat
3. perilaku
merupakan diterminan kesehatan yang menjadi
sasaran dari promosi untuk mengubah perilaku ( behaviour change ). Perubahan perilaku kesehatan sebagai tujuan dari
promosi atau pendidkan kesehatan,
sekurang- kurangnya mempunyai 3 dimensi, yakni :
a. Mengubah
perilaku negative (tidak sehat) menjadi perilaku positif (sesuai dengan nilai –
nilai kesehatan)
b. Mengembangkan
perilaku positif ( pembentukan atau pengambangan perilau sehat ).
c. Memelihara
perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah sesuai dengan norma/nilai
kesehatan ( perilaku sehat ). Dengan perkatan mempertahankan perilaku sehat yang sudah ada. Perilaku
seseorang dapat berubah jika terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan di
dalam diri seseorang
Di
dalam program – program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang
sesuai dengan norma – norma kesehatan diperlukan usaha – usaha yang konkrit dan positip. Beberapa strategi langkah-langkah
untuk memperoleh perubahan perilaku bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian
yaitu :
a. Menggunakan
kekuatan / kekuasaan atau dorongan Dalam hal ini perubaha perilaku dipaksak an
kepada sasaran sehingga ia mau melakukan perilaku yang
diharapkan. Misalnya
dengan peraturan – peraturan / undang – undang yang harus dipatuhi oleh
masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan yang cepat akan tetapi biasanya
tidak berlangsung lama karena perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran
sendiri. Sebagai contoh adanya perubahan di masyaraka untuk menata rumahnya dengan
membuat pagar rumah pada saat akan ada lomba desa tetapi begitu lomba /
penilaian selesai banyak pagar yang kurang terawat.
b. Pemberian
informasi Adanya informasi tentang cara
mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan , cara menghindari penyakit dansebagainya
aka meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selanjutnya diharapkan pengetahuan
tadi menimbulkan kesadaran masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang
berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan
memakan waktu lama tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng.
c. Diskusi
partisipatif Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana
penyampaian informasi kesehatan bukan hanya
searah tetapi dilakukan secara partisipatif. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya
penerima yang pasif tapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam diskusi
tentang informasi yang diterimanya. Cara ini memakan waktu yang lebih lama
dibanding cara kedua ataupun pertama akan tetapi pengetahuan kesehatan sebagai
dasar perilaku akan lebihmantap dan mendalam sehingga perilaku mereka juga akan
lebih mantap
4. Definisi
literasi kesehatan yang lebih komprehensif dikembangkan oleh Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO). WHO mendefinisikan keaksaraan kesehatan sebagai
keterampilan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan
individu untuk mendapatkan akses kesehatan memadai, memahami dan menggunakan
informasi dengan baik untuk menjaga kesehatan. WHO menambahkan bahwa seseorang
yang memiliki keaksaraan kesehatan yang memadai telah mencapai tingkat
pengetahuan, keterampilan pribadi, dan kepercayaan diri yang diperlukan untuk
mengambil tindakan dalam rangka meningkatkan kesehatan pribadi dan masyarakat.
Hal itu dilakukan dengan mengubah gaya hidup dan kondisi kehidupan pribadi.
Health literasi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat
karena dapatmembantu dalam pelaksanaan tindakan perawatan dan administrasi yang
dilaksanakan nantidi rumah sakit, serta untuk menjaga terjadinya komplikasi
penyakit ketika seseorang menderita sakit
Melek
kesehatan atau health literasi sangat penting untuk akses ke perawatan yang
sukses dan penggunaan layanan, perawatan diri dari kondisi kronis, dan
pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan, Berikut manfaat Literasi Kesehatan :
a. literasi
Kesehatan merupakan dasar untuk kesehatan yang memerlukan individu untuk
memiliki peran yang lebih aktif dalam keputusan dan manajemen
b. IOM
melaporkan bahwa 90
juta orang, hampir setengah populasi orang dewasa kami, keterampilan melek
kesehatan kurangnya dibutuhkan untuk memahami dan bertindak atas informasi
kesehatan dan sistem kesehatan demands melek kesehatan sebagaidasar untuk
kesehatan, dan penting untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya dan
kesenjangan
c. Pemberian
insentif kepada organisasi perawatan akuntabel ACO dan rumah medis pasien
berpusat PCMH
d. Dukungan
dan upaya memantau untuk memperluas keterampilan melek kesehatan dan kompetensi
tenaga kerja
e. Memahami
dan mempromosikan penggunaan obat yang aman sebagai isu di persimpanganmelek
kesehatan dan kualitas peduli