Kamis, 31 Januari 2019

ilmu sosial dan perilaku


ILMU SOSIAL DAN PERILAKU
      




 


Oleh :
KHALIMATUS SA’ADAH
18.13101.10.21



Dosen : Prof. Dr. Suli Efendi Rahim,M.Sc




PROGRAM PASCA SARSAJANA KESEHATAN MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANBINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN AJARAN
2019

Soal :
1.         Jelaskan aspek-aspek sosial dan perilaku dalam kesehatan masyarakat yang sering anda alami dan saksikan
2.         Jelaskan seperti apa upaya peningkatan kesehatan masyarakat melalui inovasi sosial, perilaku, teknologi dan pendekatan budaya
3.         Jelaskan langkah-langkah perencanaan program untuk perubahan perilaku kesehatan dimasyarakat
4.         Jelaskan apa itu  literasi kesehatan dan manfaatnya bagi peningkatan kesehatan masyarakat

JAWAB :

1.      Secara umum aspek fisik meliputi topografi (bentuk muka bumi), biotik (makhluk hidup), dan non-biotik (benda tak hidup). Sementara aspek sosial meliputi sosiologi, antropologi, psikologi dan ilmu sosial lain (ekonomi, komunikasi massa, hukum dll). Aspek sosial, sangat luas cakupannya meliputi segala hal yang melekat pada kehidupan manusia seperti tradisi, adat, kelompok dan masyarakat . Ilmu sosial dan kesehatan masyarakat memiliki kaitan yang sangat erat. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki prinsip dasar yang sama, yaitu sama-sama memperjuangkan keadilan sosial. Keadilan sosial berarti sebuah masyarakat dapat memberikan perlakuan adil serta pembagian yang adil sebagai imbalan dari individu kepada masyarakat dan masyarakat terhadap individu. Agen kesehatan masyarakat memperjuangkan keadilan sosial dan melihat kesehatan masyarakat sebagai bagian penting dari keadilan sosial. Beberapa aspek yang sata alami dan saksikan :

a.    Nilai Kepercayaan atau Agama Terhadap Perilaku Kesehatan

mempunyai dampak utama dalam kesehatan, khususnya untuk  praktik tertentu yang didukung atau dikutuk oleh suatu kelompok agama tertentu. Berikut merupakan cara agama memengaruhi kesehatan Agama mempengaruhi praktik sosial yang menempatkan individu dalam  peningkatan atau penurunan risiko. Contoh: sunat (seksual), penghindaran makanan laut, daging babi, serta daging sapi (makanan)

b.   Persepsi masyarakat Terhadap Sehat dan Sakit

Masyarakat mempunyai batasan sehat atau sakit yang berbeda dengan konsep sehat dan sakit versi sistem medis modern penyakit disebabkan oleh makhluk halus, guna-guna dan dosa

c.    Nilai Kebudayaan Terhadap Perilaku Kesehatan

yang berlaku dalam masyarakat akan berpengaruh terhadap perilaku individu masyarakat, kerena apa tidak melakukan nilai maka diangga tidak berperilaku “ pamali” atau “ Saru “. Nilai yang ada dimasyarakat tidak semua mendukung perilaku sehat.  Nilai-nilai tersebut ada yang menunjang dan ada yang merugikan kesehata

d.   Pengaruh Norma terhadap perilaku kesehatan

Norma dalam masyarakat sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dibidang kesehatan, karena norma yang mereka miliki diyakininya sebagai bentuk perilaku yang baik. Misal ; adanya norma bahwa laki2 tidak boleh bersalaman dengan Perempuan yang bukan mukrimnya, sehingga seorang wanita apabila periksa bagian tubuhnya 


2. Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran nting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen utama selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi dilakukan oleh dokter wanita, sampai pada pemberian alat KB IUD, suntik harus dilakukan oleh dokter wanita, bahkan untuk  periksa wanita hamil harus oleh dokter wanita.  Norma dimasyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota masyarakatnya yang mendukung norma tersebut

Paradigma sehat mempunyai orientasi dimana upaya peningkatan kesehatan masyarakat dititik beratkan pada :
a.       Promosi kesehatan, peningkatan vitalitas penduduk yang tidak sakit (85%) agar lebih tahan terhadap penyakit melalui olah raga, fitness dan vitamin.
b.      Pencegahan penyakit melalui imunisasi pada ibu hamil, bayi dan anak.
c.       Pencegahan pengendalian penanggulangan, pencemaran lingkungan serta perlindungan masyarakat terhadap pengaruh buruk (melalui perubahan perilaku).
d.      Memberi pengobatan bagi penduduk yang sakit, (15%) melalui pelayanan medis.
Dalam upaya kesehatan program  yang diperlukan adalah program kesehatan yang lebih “efektif” yaitu program kesehatan yang mempunyai model-model pembinaan kesehatan (Health Development Model) sebagai paradigma pembangunan kesehatan yang diharapkan mampu menjawab tantangan sekaligus memenuhi program upaya kesehatan. Model ini menekankan pada upaya kesehatan dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Mempersiapkan bahan baku sumber daya manusia yang berkualitas untuk 20-25 tahun mendatang.
b.      Meningkatkan produktivitas sumber daya manusia yang ada.
c.       Melindungi masyarakat luas dari pencemaran melalui upaya promotif-preventif-protektif dengan pendekatan pro-aktif.
d.      Memberi pelayanan kesehatan dasar bagi yang sakit.
e.       Promosi kesehatan yang memungkinkan penduduk mencapai potensi kesehatannya secara penuh (peningkatan vitalitas) penduduk yang tidak sakit (85%) agar lebih tahan terhadap penyakit.
f.       Pencegahan penyakit melalui imunisasi : bumil (ibu hamil), bayi, anak, dan juga melindungi masyarakat dari pencemaran.
g.      Pencegahan, pengendalian, penanggulangan pencemaran lingkungan serta perlindungan masyarakat terhadap pengaruh lingkungan buruk (melalui perubahan perilaku)
h.      Penggerakan peran serta masyarakat.
i.        Penciptaan lingkungan yang memungkinkan masyarakat dapat hidup dan bekerja secara sehat.
j.        Pendekatan multi sektor dan inter disipliner.
k.      Pengembangan kebijakan yang dapat memberi perlindungan pada kepentingan kesehatan masyarakat luas (tidak merokok di tempat umum).
l.        Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat


3.      perilaku merupakan diterminan kesehatan yang menjadi sasaran dari promosi untuk mengubah perilaku ( behaviour change ). Perubahan perilaku kesehatan sebagai tujuan dari promosi atau pendidkan kesehatan, sekurang- kurangnya mempunyai 3 dimensi, yakni :
a.       Mengubah perilaku negative (tidak sehat) menjadi perilaku positif (sesuai dengan nilai – nilai kesehatan)
b.      Mengembangkan perilaku positif ( pembentukan atau pengambangan perilau sehat ).
c.  Memelihara perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah sesuai dengan norma/nilai kesehatan ( perilaku sehat ). Dengan perkatan mempertahankan  perilaku sehat yang sudah ada. Perilaku seseorang dapat berubah jika terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan di dalam diri seseorang
Di dalam program – program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma – norma kesehatan diperlukan  usaha – usaha yang konkrit  dan positip. Beberapa strategi langkah-langkah untuk memperoleh perubahan perilaku bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu :
a.    Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan Dalam hal ini perubaha perilaku dipaksak an kepada sasaran sehingga ia mau melakukan  perilaku yang
diharapkan. Misalnya dengan peraturan – peraturan / undang – undang yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri. Sebagai contoh adanya perubahan di masyaraka untuk menata rumahnya dengan membuat pagar rumah pada saat akan ada lomba desa tetapi begitu lomba / penilaian selesai banyak pagar yang kurang terawat.
b. Pemberian informasi Adanya informasi  tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan , cara menghindari penyakit dansebagainya aka meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selanjutnya diharapkan pengetahuan tadi menimbulkan kesadaran masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan memakan waktu lama tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng.
c.    Diskusi partisipatif Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana
penyampaian informasi kesehatan bukan hanya searah tetapi dilakukan secara partisipatif.  Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya penerima yang pasif tapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam diskusi tentang informasi yang diterimanya. Cara ini memakan waktu yang lebih lama dibanding cara kedua ataupun pertama akan tetapi pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan lebihmantap dan mendalam sehingga perilaku mereka juga akan lebih mantap

4.   Definisi literasi kesehatan yang lebih komprehensif dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO mendefinisikan keaksaraan kesehatan sebagai keterampilan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan individu untuk mendapatkan akses kesehatan memadai, memahami dan menggunakan informasi dengan baik untuk menjaga kesehatan. WHO menambahkan bahwa seseorang yang memiliki keaksaraan kesehatan yang memadai telah mencapai tingkat pengetahuan, keterampilan pribadi, dan kepercayaan diri yang diperlukan untuk mengambil tindakan dalam rangka meningkatkan kesehatan pribadi dan masyarakat. Hal itu dilakukan dengan mengubah gaya hidup dan kondisi kehidupan pribadi.

Health literasi sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat karena dapatmembantu dalam pelaksanaan tindakan perawatan dan administrasi yang dilaksanakan nantidi rumah sakit, serta untuk menjaga terjadinya komplikasi penyakit ketika seseorang menderita sakit
Melek kesehatan atau health literasi sangat penting untuk akses ke perawatan yang sukses dan penggunaan layanan, perawatan diri dari kondisi kronis, dan pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan, Berikut manfaat Literasi Kesehatan :
a.       literasi Kesehatan merupakan dasar untuk kesehatan yang memerlukan individu untuk memiliki peran yang lebih aktif dalam keputusan dan manajemen
b.      IOM melaporkan bahwa 90 juta orang, hampir setengah populasi orang dewasa kami, keterampilan melek kesehatan kurangnya dibutuhkan untuk memahami dan bertindak atas informasi kesehatan dan sistem kesehatan demands melek kesehatan sebagaidasar untuk kesehatan, dan penting untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya dan kesenjangan
c.    Pemberian insentif kepada organisasi perawatan akuntabel ACO dan rumah medis pasien berpusat PCMH
d.     Dukungan dan upaya memantau untuk memperluas keterampilan melek kesehatan dan kompetensi tenaga kerja
e.  Memahami dan mempromosikan penggunaan obat yang aman sebagai isu di persimpanganmelek kesehatan dan kualitas peduli
 


 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CRITICAL APPRAISAL

CRICITAL APPRAISAL Di Susun Oleh : KHALIMATUS SA’ADAH 18.13101.10.21 Dosen Pembimbing : Prof. Dr. ...